Rabu, 26 Oktober 2016

Kodifikasi atau pembagian kitab suci Weda


Dalam menyusun kembali ribuan ayat-ayat yang tersebar luas, upaya pengkodifikasian telah ditempuh dengan memperhatikan berbagai pertimbangan. Termasuk di dalamnya adalah aspek kemudahan yang telah diwariskan sebagai adanya system guru perampara.
Dalam melakukan pengkodifikasian  terdapat ilmu menulis, ilmu menulis tersebut baru bnyak dipakai tidak lebih dari 100 SM sebagaimana dapat dibuktikan dari penemuan prasati bahkan tidak bmungkin lebih dari 900 SM. Pendapat lain mengatakan diperkirakan masa turunnya Weda antara tahun 2000 sampai dengan 1500 SM. Pada 1000 SM dan 800 SM.


            Kalau kita perhatikan secara seksama mengenai isi samhita yang ada sekarang tampak adanya metode dan sistem pengkodifikasiannya telah dilakukan secara cermat dan terkoordinir dengn baik. Dalam kitab Brahmana Purana, kita mendapatkan keterangan mengenai cara kodifikasi secara umum menurut teori relatifitas, dikemukakkan bahwa Weda diturunkan pertama kali pada zaman Treta Yuga, kemudian selama masa Treta Yuga, Weda dipelajari pada zaman Dwapara. Kodifikasi dilakukan pada zaman Waiwastamanu oleh Bhagawan Byasa yang juga dikenal Kresna Dwaipayana dan dibantu oleh para siswanya :
a.      Bhagawan Pulaha menghimpun Rg. Weda Samhita
b.      Bhagawan Jemini menghimpun Sama Weda Samhita
c.       Bhagawan Waisampayana menghimpun Yajur Weda Samhita
d.      Bhagawan Sumanta menghimpun Atharwa Weda Samhita


Penghimpunan ayat – ayat suci didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut :
a.      Penghimpunan berdasarkan umur mantra saat diturunkan
b.      Penghimpunan didasarkan atas pengelompokan isi dan peruntukannya
c.       Penghimpunan atas dasar resensi menurut keluarga Rsi yang menerima/ mengubahnya.

Untuk memahami ke 3 metode itu dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.    Penghimpunan Berdasarkan Umur Mantra
Dari keempat weda, Rg. Weda, Yajur Weda, Sama Weda dan Atarwa Weda para ahli berpendapat bahwa Rg. Weda adalah Weda yang tertua dan sumber pertama untuk Weda-weda lainnya.
Dr. B.G. Tilak, menduga bahwa Rg. Weda diturunkan sekitar tahun 4000 SM. Sedangkan para sarjana Barat maupun Timur memperkirakan Rg. Weda diturunkan sekitar tahun 2000 SM.
Untuk menentukan perkiraan tahun turunnya mantra-mantra Weda, banyak teori yang dipergunakan. Selain itu, juga ditinjau dari aspek bahasa, astronomi, penentuan nama-nama geografi dan nama-nama suku bangsa, serta tidak kalah pentingnya adalah penemuan-penemuan arkeologi. Berdasarkan penemuan tersebut disimpulkan bahwa Rg. Weda, Sama Weda, dan Atharwa Weda merupakan mantra -mantra yang disusun setelah Rg. Weda. Umumnya ketiga Weda tersebut merupakan ulangan/titipan kembali dari apa yang terdapat dalam Rg. Weda. 

b.    Penghimpunan Didasarkan Atas Pengelompokan Isi Dan Peruntukannya
            Kondifikasi Weda juga ditempuh dan diupayakan atas dasar isi dan penggunaannya. Berdasarkan sistem pertimbangan mentri dan luas ruang lingkup isisnya, malah jenis buku weda itu banyak. Weda itu mencakup berbagai aspek kehidupan yang menyangkut manusia. Maharsi Manu membagi jenis isi Weda itu kedalam dua kelompok besar yang di sebut:
          1. Weda Sruti
          2. weda Smrti
              Pembagian dalam dua jenis ini di pakai selanjutnya untuk menambahkan semua jenis buku yang dikelompokan sebagai kitab Weda baik secara tradisional maupun secara internasional ilmiah. Kelompok Weda Sruti isinya hanya memuat wahyu sedangkan kelompok Smrti isinya adalah sebagai ingatan kembali terhadap Sruti. Jadi Smrti merupakan, buku pedoman yang isisnya tidak bertentangan denga Sruti, bila di bandingkan dengan ilmu politik  Sruti merupakan UUD nya Hindu sedangkan Smrti adalah UU. pokok dan UU. pelaksanaanya adalah Nibandha. Kedua- duanya merupakan sumber hukum yang mengikat yang harus di terima, oleh karena itu ”Bagawan Manu” menegaskan dalam Wedanya “Manawa dharmasasatra’’II 10. sebagai berikut:

srutitsu weda wijneyo dharmacastram tu wai smrti. te sartwarhawam imamsyo tabhyam dharmohi nirbo bhau.
Artinya:
sasunguhnya sruti (wahyu) adalah weda demikian pula smrti itu adalah darmasasatra, kedunya harus tidak boleh diragukan dalam apapun juga karna kedunya adalah kitab suci yang menjadi sumber dari agama hindu. (dharma).



                                               
1.      Kelompok Sruti
      Kata Sruti sesungguhnya berasal dari bahasa sansekerta, dari akar kata Crt yang berarti mendengar langsung. Jadi Weda Sruti adalah kelompok Weda yang di tulis oleh para Maharsi melalui pendengaran langsung dari wahyu Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa.

            Kelompok Weda Sruti menurut Bhagawan Manu merupakan Weda yang sebenarnya ada Weda orisinal. Menurut sifat isisnya Weda ini di bagi atas tiga bagian yaitu:
a.       Bagian Mantra    
b.      Bagian Brahmana (Karma Kanda )
c.       Bagian Upanisad / Aryaka (Jnana Kanda )



a.      Mantra
Bagian mantra terdiri dari empat himpunan (Samhita) yang disebut  Catur Weda Samhita, yaitu :
                      1)      Rg. Weda atau Rg. Wedasamhita
                      2)      Sama Weda atau Samawedasamhita

                      3)      Yayur Weda atau Yayurweda samhita
                      4)      Atharwa Weda atau Atharwawedasamhita
Dari keempat kelmpok Weda itu, tiga kelompok pertama sering disebut-sebut sebagai mantra yang berdiri sendiri. Karena itu disebut Trayi Weda atau “Tri Weda”. Pengenalan Catur Weda hanya karena kenyataan Weda ini secara sistimatik telah dikelompokkan atas empat Weda. Pembagian empat kelompok isi weda itu yaitu :
                      1)      Rg Weda Samhita  ; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum dalam bentuk pujaan.
                      2)      Sama Weda Samhita ; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran-ajaran umum mengai lagu-lagu pujaan.
                      3)      Yayur Weda Samhita ; merupakan mantra-mantra yang memuat  ajaran umum mengenai pokop-pokok yajnya. Jenis Weda ini ada dua macam yaitu :
a.       Yajur Weda hitam (Kresna yajurweda) yang terdiri atas beberapa resensi antara lain: Tatiriya samhita dan Maitrayanisamhita.
b.      Yajur Weda Putih (Sukla Yajurweda), yang juga disebut Maitraneyi samhita.
                      4)      Atharwa Weda Samhita; merupakan kumpulan mantra-mantra yang memuat ajaran yang bersifat magis (Atharwan).
Kitab Rg. Weda merupakan kumpulan dari ayat-ayat tertentu. Kitab ini dikumpulkan dalam berbagai jenis resensi, seperti resensi Sakala, Baskala, Aswalayana, Sankhayayana, dan Madukeya. Dari lima macam resensi ini yang masih terpelihara adalah resensi Sakala, sedangkan resensi-resensi lainnya banyak yang tidak sempurna lagi karena mantra-mantranya hilang.
Berdasarkan resensi itu, Rg. Weda Samhita terdiri atas 1017 hymna atau 1028 mantra termasuk bagian mantra Walakhitanya. Atau disebut pula terdiri atas 153826 kata-kata atau 432000 suku kata.
Rg. Weda terbagi atas 10 Mandala yang tidak sama panjangnya. Disamping pembagian atau 10 Mandala, Rg. Weda pula dibagi atas 8 bagian yang disebut “Astaka” Mandala 2-8 merupakan himpunan ayat-ayat dari keluarga-keluarga Maha Rsi tunggal, sedangkan mandala 1, 9, dan 10 merupakan himpunan ayat-ayat dari banyak maha Rsi.
Samaweda terdiri atas mantra-mantra yang berasal dari Rg. Weda. Menurut penelitian Sama Weda terdiri atas 1810 mantra, atau kadang-kadang ada yang mengatakan 1875.
Samaweda terbagi atas dua bagian yaitu:


1)      Bagian Arcika terdiri atas mantra-mantra pujaan yang bersumber pada Rg. Weda
2)      Bagian Uttararcika, yaitu himpunan mantra-mantra yang bersifat tambahan. Kitab ini terdiri atas beberapa buku nyanyian pujaan (gana). Dari kitab-kitab yang ada yang masih dapat kita jumpai antara lain :
Ranayaniya, Kautama dan Jaiminiya (Talawakara). Walaupun demikian didalam usaha penulisan kembali kitab Samaweda itu telah diusahakan sedemikian rupa supaya tidak banyak yang hilang.
Yajur Weda terdiri atas mantra-mantra yang sebagian besar besar berasal dari Rg. Weda, ditambah dengan beberapa mantra tambahan baru. Tambahan ini umumnya berbentuk prosa. Menurut Bhagawan Patanjali, kitab ini terdiri atas 101 resensi yang sebagian besar sudah lenyap. Kitab ini terbagi atas dua aliran, yaitu :


1)      Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda). Kitab ini terdiri atas 4 resensi yaitu :
a.       Katakhassamhita
b.      Mapisthalakathasamhita
c.       Maitrayamisamhita
d.      Taithririyasamhita (Terdiri atas dua aliran yaitu Apastamba dan Hiranyakesin)
2)      Yajur Weda Putih (Sukla Yajurweda, juga dikenal Wajasaneyi Samhita). Kitab ini terdiri atas dua resensi yaitu:
a.       Kanwa dan
b.      Madhayandina
Antara kedua resensi itu hanya terdapat sedikit perbedaan Yayur Weda Putih ini terdiri atas 1975 mantra yang isinya umumnya menguraikan berbagai jenis yajna besar seperti : Wajapeya, Rajasuya, Asmawedha dan berbagai jenis yajna lainnya. Bagian terakhir dari Weda ini memuat ayat-ayat yang kemudian dijadikan Isopanisad.
Perbedaan pokok antara Yajur Weda Putih dengan Yajur Weda Hitam hanya sedikit saja. Yajur Weda putih terdiri atas mantra-mantra dan doa-doa yang harus diucapkan pendeta di dalam upacara, sedangkan mantra-mantra di dalam Yajurweda hitam terdapat pula mantra-mantra yang menguraikan arti Yajna. Bagian terakhir ini merupakan bagian tertua dari Yayur Weda itu. Didalam Weda ini kita jumpai pula pokok-pokok upacara “Darsapurnamasa” yaitu: upacara yang harus dilakukan pada saat-saat bulan purnama dan bulan gelap, disamping berbagai jenis upacara-upacara besar yang penting artinya dilakukan setiap harinya.
Atharwa Weda yang disebut atharwawedangira, merupakan kumpulan-kumpulan mantra-mantra yang juga banyak berasal dari Rg. Weda. Kitab ini memiliki 5987 mantra (puisi dan prosa). Kitab ini terpelihara dalam dua resensi yaitu :
1.      Resensi Saunaka. Resensi ini paling terkenal dan terbagi atas 21 buku
2.      Resensi Paipplada

b.      Bagian Brahmana (Karma Kanda)
            Bagian kedua yang terpenting dari kitab Sruti ini adalah bagian yang disebut “Brahmana” atau “Karma Kanda”. Himpunan buku-buku ini disebut Brahmana. Tiap-tiap mantra (Rg. Weda, Sama Weda, Yajur Weda dan Atharwa Weda) memiliki Brahman. Brahmana berarti doa. Jadi kitab Brahmana adalah kitab yang berisi himpunan doa-doa yang dipergunakan untuk keperluan upacara yajna. Kadang-kadang Brahmana diartikan penjelasan yang menjelaskan arti kata ucapan mantra.
            Kitab Rg. Weda memiliki dua jenis buku Brahmana yaitu; Aitareya Brahmana dan Kausitaki Brahmana ( Sankyana Brahmana). Kitab Brahmana yang pertama terdiri atas 40 Bab, dan yang kedua terdiri atas 30 Bab.
Kitab Samaweda memiiki kitab Tandnya Brahmana yang juga sering dikenal dengan nama “Pancawisma”. Kitab ini memuat legenda (ceritera-ceritera kuno) yang dikaitkan dengan upacara Yajna. Disamping itu ada pula “ Sadwisma Brahmana” Kitab ini terbagi atas 25 buku dimana bagian terakhir yang terkenal adalah kitab: “Adhuta Brahmana” merupakan jenis “Wedangga” yang memuat mengenai ramalan-ramalan dan penjelasan mengenai berbagai mujizat.
Kitab Yajur weda memiliki beberapa kitab “Brahmana” Yajur Weda hitam (krsna Yajur Weda)  memiliki Taittiriya Brahmana.
Yajur Weda putih (Sukla Yajurweda) memiliki Satapatha Brahmana. Nama ini disebut demikian karena kitab ini terdiri atas 100 adhyana. Bagian terakhir dari kitab ini merupakan sumber bagian kitab “Brhadaranyakapanisa”. Di dalam kitab Brahmana ini mula-mula kita jumpai ceritra Sakuntala, Pururawa, Urwasi dan ceritra-ceritra tenyang ikan.
AtharwaWeda ini memiliki kitab “Gopatha Brahmana”.
c.        Bagian Upanisad/Aranyaka
            Aranyaka atau Upanisad adalah himpunan mantra-mantra yang membahas berbagai aspek teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan ini merupakan bagaian teori mengenai ke Tuhanan. Himpunan ini merupakan bagian Jnana Kanda dari pada Weda Sruti.
            Sebagaimana halnya dengan tiap-tiap mantra memiliki kitab Brahmana. Demikian pula tiap-tiap mantra memiliki kitab-kitab Aranyaka atau Upanisad. Kelompok kitab-kitab ini disebut rahasya Jnana karena isinya membahas hal-hal yang bersifat rahasia.
            Di dalam penelitian berbagai naskah kitab suci Hindu Dr G. Sriniwasa Murti didalam introdusi kitab Saiwa Upanisad mengemukakan bahwa tiap-tiap sakha (cabang ilmu) weda merupakan satu upanisad. Dari catatan yang ada :
1.      Rg. Weda terdiri dari 21 sakha
2.      Sama Weda Terdiri atas 1000 sakha
3.      Yajur Weda terdiri atas 109 sakha
4.      Atharwa Weda terdiri atas 50 sakha
Berdasarkan jumlah sakha itu, yaitu1180 sakha, maka jumlah upanisad seyogyanya ada banyak 1180 buah buku tetapi berdasarkan catatan Muktikopanisad, Jumlah upanisad yang disebut secara tegas adalah sebanyak 108 buah buku. Adapun perincian dari pada kitab-kitab Upanisad itu adalah sebagai berikut ;
1.      Upanisad yang tergolong jenis Rg. Weda yaitu antara lain :
Aitreya, Kausitaki, Nada-bindu, Atmaprabedha, Nirwana, Mudgala, Aksamalika, Tripura, Saubhagya, dan Bwahrca Upanisad, yang semuanya berjumlah sepuluh upanisad.
2.      Upanisad yang tergolong jenis sama Weda yaitu antara lain :
Kena, Chandogya, Aruni, Maitrayani, Maitreyi, Wajrasucika, Yogacudamani, Wasudewa, Mahat, Sanyasa, Awyaka, Kondika, Sawitri, Rudrasajabala, arsana dan Jabali. Semuanya berjumlah enam belas upanisad.
3.   Upanisad yang tergolong jenis Yajur Weda, yaitu antara lain:
a.       Untuk jenis Yajur Weda Hitam, terdiri atas
Kanthawali, Taittriyaka, Brahma, Kaiwalya, Swetaswastara, Garbha, Narayana, Amrtabindu, Asartanada, Katagnirudra, Kausika, Sarwasara, Sukharahasya, Tejebindu, Sakanda, Sariraka, Yogasikha, Ekaksara, Aksi, Awadutha, Pranagnikotra, Wahara, Klaisandarana, dan Saraswatirahasya, yang semuanya berjumlah tiga puluh dua upanisad.
b.       Untuk jenis Yajur Weda Putih terdiri dari :
Isawasya, Brhadaranyaka, Jabala, Hamsa, Prramahamsa, Subata, Matrika, Niralambha, Trisikhibrahmana, Mandala brahamana, Adwanyataraka, pinggalabhiksu, Turiyatita, Adhyatma, Tarasara, Yajnawalkya, Satyayanidan Muktika. semuanya berjumlah Sembilan belas upanisad.
4.   Upanisad yang tergolong jenis atharwa Weda, yaitu antara lain :
Prana, Munduka, Mandukya, Atharwasira, Atharwa Sikha, Brhjjabala, Nrsimhatapini, Naradapariwrajaka, sita, Sarabha, Mahanarayana, Ramarahsya, Ramatapini, Sandilya, Paramahamsapariwrajaka, Annapurna, Surya, Atma, Pasupata, Parabrahma, Tripuratapini, Dewi, Bhawana, Brahma, Gamapati, Mahawakya, Gopalatapini, Krsna, Hayagriwa, Dattatreya, dan Garuda Upanisad.Semuanya berjumlah tiga puluh satu upanisad.
            Dengan memperhatikan deretan nama-nama kelompok Mantra, Brahmana, dan Upanisad diatas, jelas bahwa kitab Sruti meliputi jumlah yang cukup banyak. Untuk mendalami dharma,semua buku-buku itu adalah merupaka sumber utama dan kedudukannya mutlak perlu dihayati.

2.      Kelompok Smrti
            Smrti merupakan kitab suci agama hindu, sesudah Veda Cruti. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum agama Hindu, yang juga disebut Dharma atau Dharma Sastra. Dharma berarti hukum, dan sastra berarti ilmu.
            Dharma sastra berarti ilmu hukum agama Hindu. Kata Smrti berasal dari bahasa Sansekerta, dari kata smrt (neuter) berarti ingatan, menjadi kata smrti (feminime) berarti : ingatan kenangan, tradisi yang berwenang.
Kitab Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para maharsi dari wahyu Sang Hyang Widhi. Kitab Smrti memuat tentang ajaran hukum Agama Hindu  yang disebut Dharma atau Dharmasastra.
            Kitab Manawa Dharmasastra Bab II.10 menyebabkan sebagai berikut :


Crutisto wedo Wijinoyo
dhamacastram tu wai smrti
te sarwarthes wamimamsye
tabhyam dharmohi nirbabhau





Artinya :

Yang dimaksud dengan Sruti ialah Weda dan yang dimaksud dengan Smrti adalah Dharmasastra, kedua macam pustaka suci ini tidak boleh diragukan kebenarannya mengenai apapun juga karena, dari keduanya itu hukum yang pasti.






Kitab Sarasamuscaya 37, menyebutkan sebagai berikut :
Cruti wedah samakhyato
dharmacastram tu wai smrti,
te sarwarthes wamimamsye
tabhyam dharma winir bhrtah

Hyang ujarekena sakareng, Cruti ngaranya Sang Hyang Catur Weda, Sang Hyang Bharma sastra Smrti ngaranira. Sang Hyang Cruti lawan Sang Hyang Smrti sira juga pramanakena, tutakena warawarah nira, ringasingprayajona, jawat mangkana paripurna alep Sang Hyang Dharma Prawnti.

Artinya:
Yang akan dibicarakan sekarang, Sruti namanya Catur Weda, Dharmasastra namanya Smrti. Sruti dan Smrti, keduanya supaya dijadikan jalan, supaya dituruti ajarannya untuk setiap usaha, selama demikian halnya, maka sempurnalah dalam berbuat dharma.


Kitab Bhagavad Gita XVI, 23, menyebutkan
yah sastrawidhim ustrijyah
vartate kamakaratah
na sa siddhim avapnoti
na sukham naparam gatim

Artinya:

Tetapi ia yang tidak menghormati ajaran – ajaran kitab suci sastra dan berbuat atas golongan keinginan belaka tak mencapai kesempurnaan, kebahagiaan, dan tujuan tertinggi.

Berdasarkan ketiga uraian di atas, dengan jelas dapat kita pahami bahwa Smrti merupakan kitab suci agama hindu.
Smrti adalah kitab suci Weda yang ditulis berdasarkan ingatan oleh para Maharsi bersumberkan  pada Veda Cruti. Dengan demikian ini kitab-kitab Smrti tidak boleh bertentangan denga Weda Cruti.
Kitab Smrti adalah merupakan kitab pendukung dan penjelasan dari kitab Weda Cruti, yang ditulis oleh banyak Maharsi. Oleh karena itu pergunakanlah kitab-kitab sastra sebagai petunjuk untuk menentukan tentang segala sesuatu yang ahrus kita kerjakan dan untuk dapat mengetahui apa yang patut kita kerjakan.
Beberapa kitab suci agama hindu termasuk kitab Smrti antara lain ; Manawa Dharma Sastra, Sarasamucaya, Clokantara, Tatwa Suksma, Bhrata yudha, Yoga Sutra, Ramayana, Niti Sastra, Cilakrama, Manu Smrti, Yajnya pawitra dan Brahmanda Purana.
Kitab-kitab suci yang tergolong jenis Kitab Smrti itu banyak jumlahnya, dann penulisanya pun banyak pula. Hal semacam inidisebabkan oleh munculnya berbagai macam kebutuhan masyarakat ( umat Hindu ) yang diisaratkan oleh Veda dalam mencapai keadilan, keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup.
Untuk dapat mengamalkan Veda secara benar di dalam upaya mewujudkan tujuan hidup secara rohani dan jasmani, jenis kitab-kitab Smrti perlu dipergunakan sebagai pedoman hidup (dipedomani).
Berdasarkan kebiasaan yang telah berjalan, jenis kitab-kitab Smrti dikelompokkan menjadi dua (2) kelompok besar, yaitu terdiri dari:

a.      Kelompok Vedangga
b.      Kelompok Upaweda



a.      Kelompok Vedangga
            Kitab Vedangga, terdiri dari katan: Veda dan Angga bahasa (Sansekerta). Veda artinnya ilmu pengetahuan suci, dan angga berarti bagian, anggota, badan, sumber, dasar.
            Vedangga berarti batang tubuh dari Veda . Untuk dapat mempelajari, memahami, dan mendalami veda dengan baik, kita hendaknya terlebih dahulu mendalami vedangga .

Vedangga sebagai kitab smrti, terdiri dari beberapa kitab, antara lain:
1.      Siksa ( phoneka )
Siksa adalah  kitab vedangga yang isinya mengurikan tentang  petunjuk-petunjukk tata cara mengucapkan mantra yang tepat sesuai dengan tinggi-rendahnya tekanan suara
Untuk dapat mengucapkan mantra ( weda Cruti ) dengan baik, fungsi kitab seksa ini adalah  sangat penting. Dalam hubungannya dengan mempelajari mantra ( weda cruti ) kitab-kitab siksa, juga disebut dengan nama Pratisakhya .
Adapun kitab-kitab Pratisakhya yang masih sampai saat ini adalah :
a)      Rg veda Pratisakhya
b)      Taittiriya Pratisakhya Sutra
c)      Wajasaneyi Pratisakhya Sutra
d)     Sama Pratisakhya
e)      Atharwa weda Pratisakhya sutra

2.      Wyakarana ( Tata Bahasa )
            Kitab Wyakarana isinya menguraikan tentang tata bahasa, untuk  dapat mnghayati Veda dengan benar, kecil kemungkinannya dapat diketahui, tanpa mengerti dan mengetahui tata bahasanya. Oleh karenanya kitab Wyakarana ini memiliki fungsi yang sangat penting di dalam mempelajari veda .
            Para Maharsi yang mendalami tentang tata bahasa ( Veda ) adalah: Maharesi Sakatayana, Begawan Panini, Maharesi Patanjali, dan Begawan Yaska.
            Di antara orang suci tersebut di atas, yang terkenal adalah Begawan Panini. Beliau menuliskan Kitab Asta Dhyayi dan Patajali Bahasa .
            Begawan Panini adalah orang suci yang pertama kali mengenalkan bahasa Sansekerta popular ( bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat ) dan bahasa Daiwak  yaitu bahasa para Dewa – Dewa .

3.      Chanda ( Lagu )
            Candra  adalah cabang veda yang secara khusus membicarkan tentang aspek ikatan bahasa dalam veda yang disebut lagu. Dalam mempelajari veda kita perlu mendalami kitab chandra, karena bersumberkan pada pendalaman kitab Chandra semua ayat-ayat veda dapat dipelajari secara turun temurun. Hal ini kita dapat persamakan dengan berbagai macam nyayian yang dapat dinyayikan dan mudah dapat diingat .
            Dari berbagai macam kitab-kitab Chandra, yang masih terdapat  utuh sampai sekarang ada dua buah buku, yaitu: Midana sutra dan Chandra sutra. Kedua kitab ini dihimpun oleh Begawan Pinggala.
4.      Nirukta
Kitab-kitab Nirukta berisi tentang penafsiran otentik yang berhubungan dengan kata-kata yang terdapat dalam veda. Kitab Nirukta ditulis oleh Bhagawan Yaska pada tahun  800 SM. Kitab Nirukta hasil karya Bagawan Yaska, isinya menguraikan tentang tidak macam sesuatu hal, yaitu :
a)      Memuat kata-kata yang memiliki arti sama atau Naighantuka Kanda.
b)      Memuat kata-kata yang memiliki arti ganda atau disebut  Naighama kanda.
c)      Memuat tentang nama-nama para Dewa yang ada di angkasa, bumi dan sorga atau disebut Daiwatganda .

5.      Jyotisa ( Antronomi )
            Kitab Jyotisa, isinya yang utama adalah mengurakan tentang peredaran tata surya, bulan dan badan angkasa lainnya yang dipandang  dan dianggap memiliki pengaruh dalam pelaksanaan yadnya.
            Kitab Jyotisa adalah kitab pendukung Veda, yang menguraikan tentang pokok-pokok pengetahuan dan bidang astronomi .
            Melalui pengetahuan yang terdapat dalam kitab Jyotisa juga kita dapat memahami, bahwa bagaimana veda mengajarkan kepada umatnya untuk dapat berhubungan secara harmonis dengan alam dan lingkungannya berdasarkan yadnya .
            Di antara kitab Jyotisa , yang terdapat masih sampai sekrang adalah kitab Jyotisa Wedangga. Kitab ini memiliki hubungan dengan kitab Veda Cruti , Rg Veda , Yajur Veda .



6.      Kalpa
            Kitab Kalpa adalah jenis kitab smrti ( vedangga ) yang isiya berhubungan dengan kitab Brahmana dan kitab-kitab mantra .
Kitab Kalpa ini terdiri dari beberapa bidang antara lain:
a.       Bidang Srauta
b.      Bidang Grhya
c.       Bidang dharma
d.      Bidag Suliwa
Dari ke-4 (empat) bidang kitab kalpa tersebut diatas, kebanyakan diantaranya isinya berhubungan dengan kitab-kitab Brahmana. Dan hanya sebagian kecil yang berhubungan dengan kitab-kitab Mantra.
a)      Kitab Srauta
Kitab srauta atau juga disebut Srauta Sutra, isinya  memuat berbagai macam ajaran mengenai tata cara melakukan yadnya. Tata cara  melakukan yadnya yang  dimakusud antara lain tata cara upacara yadnya, penebusa dosa dan lain-lain serta tata cara upacara yadnya yang berhubungan dengan upacara keagaaman, baik dalam tingkatan upacara besar, upacara kecil dan upacara harian (tiap-tiap hati).
b)      Kitab Grhya
Kitab Grhaya juga disebut dengan nama Grhya Sutra. Kitab Grhya Sutra, isinya menguraikan tentang berbagai ajaran mengenai aturan pelaksanaan yadnya yang mesti dilaksanakan oleh orang-orang/masyarakat (Umat Hindu) yang telah hidup berumah tangga.
Berhubungan dengan kitab Srauta dan Grhya Sutra (kalpa)  terdapat kitab Sradha Kalpa dan Pitri Medha Sutra.
Kedua kitab tersebut diatas (Sradha Kalpa dan Pitri Medha Sutra) isinya menguraikan tentang pokok-pokok ajaran yang berhubungan dengan tata cara upacara untuk arwah orang-orang yang telah meninggal dunia.
Disamping itu pula terdapat kitab: Prayas Cita Sutra sebagai pendukung dari kitab waitana Sutra (Atharwa weda).



c)      Kitab Dharma Sutra
Kitab Dharma Sutra, isinya menguraikan tentang berbagai macam aspek mengenai peratura hidup bermasyarakat dan bernegara.
Kitab Dharma Sutra juga disebut Dharma Sartra. Kitab Dharma Sutra dipandang sebagai kitab yang sagat penting diantara kitab-kitab jenis kalpa. Karena dipandang sangat penting, maka terdapatlah kesan bahwa Veda Smrti itu adalah Dharma Sastra.
Di antara orang suci yang disebut sebagai penulis  kitab Dharma Satra adalah Bhgawan Manu,  Bhgawan Apastamba, Bhgawan Bhaudyana, Bhgawan harita, Bhgawan Wisnu, Bhgawan Wasistha, Bhgawan Waikanasa, Bhgawan Sanskha, Bhgawan yajnawalkya, Bhgawan Parasara.
Dari nama-nama para orang suci penulis Dharma Sastra tersebut diatas, yang paling terkenal adalah Bhgawan Manu. Karya sastra beliau di bidang Manawa Dharma Satra ditulis oleh Bhgawan Bhrgu. Ajaran yang termuat dalam kitab Manawa Dharma Sartra yang ditulis oleh Bhgawan Bhrgu menyebar di seluruh peloso dunia, seperti di India, di Campa, Kamboja, Thailand, dan sampai di Indonesia.
      Agama Hindu mengajarkan kepada umatnya, bahwa dalam hidup dan kehidupan kita ini, dilalui oleh empat zaman atau disebut Catur Yuga. Bhagawan Sankhalikhita, bahwa masing-masing juga dari Catur Yuga mempunyai Dharma Sastranya tersendiri, seperti :
(1)   Pada masa Satya / Krtha Yuga berlaku kitab Manawa Dharma Sastra karya sastra dari  Bhagawan Manu.
(2)   Pada masa Trita Yuga berlaku kitab Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Yajnawalkhya.
(3)   Pada masa Dwapara Yuga berlaku kitab Dharma Sastra buah karya Bhagawan Sankha Likhita.
(4)   Pada masa Kaliyuga dipergunakanlah Dharma Sastra yang ditulis oleh Bhagawan Parasara.
Diantara keempat Kitab Dharma Sastra tersebut, yang diterapkan untuk masing-masing bagian Catur Yuga adalah memiliki sifat saling mengisi atau melengkapi diantara satu dengan yang lainnya.



d)      Kitab Suliwa Sutra
            Kitab Suliwa Sutra adalah merupakan bagian dari kitab-kitab Kalpa.
            Kitab Suliwa Sutra ini, isinya memuat tentang petunjuk dan peraturan-peraturan mengenai tata cara membuat dan mendirikan tempat suci untuk beribadat (Pura Candi), bangunan-bangunan lainnya yang berhubungan dengan arsitektur.
            Kitab Suliwa Sutra memiliki beberapa buku,antara lain: Kitab Silpa Sastra, Kitab Kautuma, Kitab Wastu Widya, Kitab Manasara, Kitab Wisnu Dharmotara Purana, dan sebagainya.
b.      Kelompok Upaweda
            Kitab-kitab Upaweda merupakan kitab kelompok kedua dari Veda Smrti, setelah kitab-kitab Vedangga. Kata Upaweda berasal dari kata Sansekerta, yang terdiri dari dua kata, yaitu: kata Upa dan Veda. Kata “Upa“ dapat diartikan “dekat” dan kata “Veda” berarti pengetahuan suci ( kitab suci).
            Upaweda berarti dekat dengan Veda ( Pengetahuan Suci). Upaweda juga diartikan Veda tambahan.
       Kitab Upaweda memiliki fungsi sama pentingnya dengan kitab-kitab Smrti yang lainnya.
       Kitab Upaweda terdiri dari beberapa cabang ilmu, antara lain :

1)      Itihasa
                 Kitab Itihasa dikelompokkan dalam kitab-kitab Upaweda. Kata Ityihasa terdiri dari tiga suku kata, yakni “Iti-ha-sa” yang artinya “sesungguhnya kejadian itu begitulah nyatanya. Nama Itihasa pada mulanya diberikan oleh penulis kitab Mahabhrata pada bagian Adiparwa yaitu Bhagawan Wiyasa. Itihasa adalah sebuah epos yang menceritakan sejarah perkembangan raja-raja dan kerajaan Hindu dimasa lampau. Itihasa adalah karya sastra yang bersifat spiritual, dimana ceritanya penuh dengan filsafat, roman, kewiraan dan mitologi. Kitab Itihasa terdiri dari kitab Ramayana ( terdiri dari 7 kanda) dan Mahabhrata (terdiri dari 18 parwa).
2)      Purana
                 Kitab Purana adalah bagian dari kitab-kitab Upaweda. Kitab Purana berisikan berbagai macam cerita dan keterangan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada zaman dahulu kala (kuno).

3)      Artha Sastra
                 Kitab Artha Sastra ini berisikan tentang pokok-pokok pemikiran bidang ilmu politik. Artha sastra sebagai bagian dari kitab Upaweda, ditulis oleh Bhagawan Brhaspati. Jejak beliau didalam tulis menulis kitab-kitab “ Artha sastra” diikuti oleh Maharesi Kautilya ( Canakhya).
                 Disamping Maharesi Kautilya yang mengikuti Bhagawan Brhaspati dalam menulis kitab-kitab Artha Sastra, ada juga bhagawan lainnya, seperti: Bhagawan Usana dan Bhagawan Parasara, Danding, Wisnugupta, Bharadwaja dan Wisalaksa.
                 Kitab-kitab yang tergolong kitab Artha Sastra yang lainnya adalah Niti Sastra atau Rajadharma ( Dandaniti). Jenis kitab Artha Sastra yang digubah di Indonesia adalah jenis Uasana dan Niti Sastra, serta Sukraniti.
4)      Ayur Weda
                 Kitab Ayur Weda kelompok kitab Upaweda yang isinya menguraikan tentang bidang ilmu kedokteran atau kesehatan baik rohani maupun jasmani.
                 Adapun nama kitab yang termasuk kitab Ayur Weda adalah kitab Caraka Sasmitha, Susruta Sasmitha, Astanggahrdaya, Yogasara dan Kama Sutra.
     Berdasarkan materi yang terdapat dalam kitab Ayur weda maka  isi kitab Ayur Weda meliputi delapan bidang ajaran umum,yaitu :
a)      Salya yaitu ajaran mengenai Ilmu bedah
b)      Salkya adalah ajaran mengenai Ilmu penyakit
c)      Kayakitsa yaitu ajaran mengenai Ilmu  obat-obatan
d)     Bhuta Widya yaitu ajaran mengenai Ilmu psikoteraphy
e)      Kaumara Bhrtya yaitu ajaran mengenai pendidikan anak-anak dan merupakan dasar bagi ilmu jiwa anak-anak.
f)       Agada Tantra yaitu Ilmu toxikologi
g)        Rasayama Tantra yaitu Ilmu mujizat, dan
h)        Wajikarana Tantra yaitu Ilmu jiwa remaja
                 Kitab Caraka Samitha merupakan bagian dari kitab Ayur Weda. Kitab tersebut memuat delapan bidang ajaran,antara lain :
a)      Sutrathana       : isinya menguraikan tentang ilmu pengobatan
b)      Nidanasthana   : isinya memuat tentang berbagai penyakit yang bersifat umum
c)      Wimanasthana : isinya menguraikan tentang ilmu pathologi
d)     Sarithana          : isinya menguraikan tentang ilmu anatomi dan embryology
e)      Indiyasthana    : isinya menguraikan tentang material diagnosa dan pragnosa
f)       Cikitasasthana   : isinya menguraikan tentang ajaran khusus mengenai pokok–pokok ilmu therapy.
g)      Kalpasthanana   : isinya menguraikan tentang ajaran dibidang theraphy secara umumnya.
h)      Siddistana           : isinya juga menguraikan tentang pokok-pokok dibidang theraphy secara umumnya.
                 Berdasarkan catatan yang ada kitab Kalpasthana dan kitab Siddhistana telah diterjemahkan kedalam bahasa Arab dan Persia pada tahun 800 Masehi.
                 Kitab Susruta Samhita ditulis oleh Bhagawan Susanta. Kitab ini isinya menguraikan tentang pentingnya ajaran umum dibidang ilmu bedah. Disamping itu pula kitab Susruta Samhita mencatatkan berbagai macam alat-alat yang dapat dipergunakan dalam pembedahan.
                 Kitab Yogasara dan Yogasastra ditulis oleh Bhagawan Nagarjuna. Kedua kitab ini isinya menguraikan tentang pokok-pokok ilmu yoga yang berhubungan dengan sistem anatomi dalam pembinaan kesehatan, baik jasmani maupun rohani.
                 Kitab Kama Sutra ditulis oleh Bhagawan Watsyayana pada abad ke-10 Masehi. Kitab Kama Sutra berhubungan dengan kitab Wajikarana Tantra isinya menguraikan tentang ajaran ilmu jiwa remaja.
5)      Gandharwa Weda
                 Kitab Gandharwa Weda merupakan bagian dari kitab-kitab Upaweda Gandharwa Weda sebagai kitab Smrti, juga memiliki beberapa bagian kitab-kitab lagi, seperti: Natya Sastra, kitab Natya Wedagama, Dewa Dasa Sahasri, Rasarnawa, Rasaratnasamucaya, dan yang lainnya.
                 Kitab Gandharwa Weda, isinya menguraikan tentang berbagai aspek cabang ilmu seni.
6)      Kama Sastra
                 Kitab Kama Sastra adalah termasuk kitab suci agama Hindu pada bagian Smrti (Upaweda). Kama Sastra sebagai bagian dari jenis kitab Upaweda isinya menguraikan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan asmara, seni atau rasa indah.
                 Didalam upaya untuk mewujudkan salah satu tujuan hidup, umat beragama dipandang perlu untuk membangkitkan rasa indah tersebut. Kebangkitan dari rasa indah manusia terbentuk untuk berbakti kepada Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, hendaknya dipedomi oleh Kama Sastra. Karena dengan demikian asmara dan rasa indah yang muncul itu tentu terarah /bernilai positif adanya.
                 Diantara kitab-kitab Kama Sastra yang terkenal adalah karya dari Bhagawan Watsyayana.


7)      Agama
                 Kitab Agama itu baru ada setelah Agama Hindu ada dan berkembang didunia.
                 Menurut Veda, Agama Hindu boleh dan dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia. Hal ini termuat dalam kitab Yajur Veda XVI.18 sebagai berikut:

“Yaatkeram wacam kalyanin awadoni janebhyah,
Brahma Rajanyabhyam cudraya caryaya ya siwaya caranayaca”
Artinya:

Biar kunyatakan disini kitab suni ini kepada orang-orang banyak, kepada kaum Brahmana, kaum Ksatrya, kaum Sudra, dan kaum waisya dan bahkan pada orang-orangku dan kepada mereka ( orang-orang asing) sekalipun.

Berdasarkan bunyi Cloka tersebut diatas dinyatakan bahwa kitab suci Veda dapat dipelajari oleh siapa saja, tidak terkecuali. Namun menyadari akan kekurangan kesempurnaan kita sebagai umatnya, maka tidak akan semuanya mempelajri dengan sempurna.
Disamping itu kita sebagai umatnya perlu menyadari bahwa, veda sebagai sumber ajaran agama hindu mengandung ajaran yang sangat tinggi.
Bagi mereka yang belum dapat mempelajari Veda dapat belajar  agama Hindu berdasarkan kitab-kitab agama.
Kita agama isinya memuat ajaran tentang keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa dan petunjuk-petunjuk untuk melaksanakan tata cara persembahyangan.
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa jumlah kitab-kitab Smrti yang dapat kita pergunakan sebagai petunjuk untuk meneta kehidupan berhubungan dengan Sang Hyang Wdhi, banyak jenisnya. Hal ini sesuai dengan ucapan kitab Smrti (Dharma Sastra) sebagai berikut :
wedo ‘khilo dharma mulam smrti cile ca tad widam
Acaracca iwa sadhunam atmanastutirceva ca
( Manawa Dharma sastra II.6)

Artinya:


Seluruh weda merupakan sumber utama dari pada Dharma ( Agama hindu ) kemudian barulah smerti , disamping kebiasaan – kebiasaan yang baik dari orang – orang yang menghayati Veda ( Sila ) dan kemudian tradisi – tradisi dari orang – orang suci ( Acara ) serta terakhir adalah rasa puas diri sendiri (atmanastusti).

3 komentar: