Rabu, 26 Oktober 2016

WEDA

Pengertian Weda, Bahasa Dalam Weda, Sifat Weda, Fungsi Weda, Kedudukan Weda.
Pengertian Weda



Kata Weda berasal dari bahasa Sansekerta  yaitu dari urat kata Vid yang berarti mengetahui. Weda berarti Pengetahuan. Dalam pengertian samantik Weda berarti pengetahuan suci, kebenaran sejati, pengetahuan tentang ritual, kebijaksanaan tertinggi, pengetahuan spiritual sejati tentang kebenaran abadi, ajaran suci atau kitab suci sumber ajaran agama Hindu.


Menurut Maharsi Sayana, kata Weda berasal dari urat kata Vid yang berarti untuk mengetahui dan Weda berarti kitab suci yang mengandung ajaran yang luhur untuk menuntun menuju kehidupan yang baik dan menghindarkannya dari berbagai bentuk kejahatan ( Ista prapy anista parihara yoralaukikam upayam yogranto vedayati sa vedah).
Weda berarti pengetahuan. Tetapi, bila ditulis dengan huruf a (panjang), Weda berarti kata-kata yang diucapkan dengan aturan-aturan tertentu. Jadi Weda adalah kata-kata yang diucapkan, dinyanyikan atau dilagukan. Dari pengertian weda akhirnya digunakan istilah mantra yang artinya menurut Bhagawan Medhaditi adalah ucapan suara yang di atur menurut aturan. Bhagawan Bhrgu memberikan keterangan bahwa Weda adalah Wahyu yang kebenarannya tidak dapat diragukan dan yang menjadi sumber ajaran agama Hindu.

Perenungan :
Ko addha veda ka iha pra vocat
Kuta ajata kuta iyam visrstih
Arvag deva asyavisarjanenatha
Ko veda yatha abhuva
(Rgveda X. 129. 6)

Artinya:
‘Siapakah yang sesungguhnya mengetahui siapakah
yang mampu menjelaskannya, dimana ia lahir
dan dari manakah ciptaan ini berasal ?
Sesungguhnya para devata belakangan dari
Terciptanya alam semesta ini. Siapakah yang

Menegetahui asal dari ciptaan ini’ 

Bahasa Dalam Weda

Bahasa yang dipergunakan dalam Weda disebut bahasa Sansekerta.  Nama Sansekerta dipopulerkan oleh maharsi Panini, yaitu seorang penulis Tata Bahasa Sensekerta yang berjudul Astadhyayi yang sampai kini masih menjadi buku pedoman pokok dalam mempelajari Sansekerta. Tata bahasa Sansekerta disusun pada tahun 700 S.M. dan menamakan bahasa yang dipergunakan dalam Weda dengan nama Daiwi Wak (bahasa/sabda Dewata). Baru dalam tahun 200 S.M. bahasa itu mulai dikenal dengan nama Sansekerta. Tokoh yang merintis penggunaan tata bahasa Sansekerta ialah Rsi Panini. Kemudian dilanjutkan oleh Rsi Patanjali dengan karyanya adalah kitab Bhasa yang ditulis pada abad II S.M. nama Sansekerta yang diperkenalkan oleh Rsi Patanjali adalah untuk menyebutkan nama bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum dalam pergaulan di Bharatawarsa.
      Jejak Patanjali diikuti pula oleh Rsi Katyayana yang lebih dikenal dengan nama Rsi Wararuci pada abad V S.M. Beliau menulis keterangan-keterangan tambahan atas karya Panini disamping sebagai penulis Sarasamuccaya, yang karyanya telah diterjemahkan di Indonesia kedalam bahasa Jawa Kuno pada waktu zaman keemasan Hindu di Jawa dan telah pula dialihkan kedalam bahasa Indonesia pada tahun 1970. 
Sifat Weda

Perenungan

Na yam jaranti sarado na masa,
Na dyava indram avakarsayanti
(Rgveda VI. 24. 7)
Artinya:
‘Tuhan Yang Maha Esa tidak menjadikan dia tua,
Bulan dan demikian pula hari’

Sifat Weda adalah Anandi dan Anantha. Weda itu bersifat Anandi dan Anantha, sebab Weda merupakan sabda suci yang diterima melalui para Maha Rsi penerima wahyu. Sifat Weda dapat dikategorikan sebagai berikut:
a.         Weda tidak berawal, karena Weda sebagai sabda suci yang telah ada sebelum alam diciptakan olehnnya.
b.        Weda tidak berakhir karena ajaran Weda berlaku sepanjang zaman. Mangingat Weda tidak berawal dan tidak berakhir maka disebut Ananda dan Anantha.
c.         Weda berlaku sepanjang zaman artinya dari zaman prasejarah sampai zaman modern dari manusia tngkat kecerdasan tinggi maupun rendah.
d.        Weda disebut Apourucyam, maksudnya Weda tidak disusun oleh manusia melainkan di peroleh tau diterima oleh orang-orang atau para Maha Rsi. Weda itu bukan budaya Agama dan bukan hasil ciptaan manusia.
e.         Weda mempunyai keluwesan, tidak kaku, tetapi tidak memiliki inti dan hakikatnya Weda bersifat feksibel.
Fungsi Weda

Perenungan :
Yathenam vacam kalyamin avadani janebhyah,
Brahma rajanyabhyam sudraya caryaya
Ca svaya caranaya ca
(Yayurveda XXVI. 2)
Artinya :
‘Hendaknya disampaikan sabda suci ini kepada seluruh umat
Manusia, cendikiawan-rohaniawan, raja/ pemerintah/masyarakat.
Para pedagan, petani dan nelayan serta para buruh, kepada
Orang-orangku dan orang asing sekalipun’

Fungsi Weda antara lain:
a.       Weda sebagai sumber kebenaran, etika dan tingkah laku.
b.      Weda sebagai kitab suci Agama Hindu digunakan sebagai penuntun umat manusia daam usaha mencapai hidup suci.
c.       Weda memberikan jaminan terhadap keselamatan mahluk hidup di dunia baik sekarang maupun yang akan datang.
d.      Weda merupakan ajaran kebenaran sehingga sangat di utamakan oleh umat Hindu di dunia.
e.       Weda merupakan keimanan dan keyakinan yang sangat mendasar dalam usaha membebaskan jiwanya untuk mencapai tujuan akhir, yaitu Moksartam Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.
Kedudukan Weda

a.      Weda, kitab suci, sumber ajaran agama Hindu
            Sebagai kitab suci agama Hindu maka ajaran Weda diyakini dan dipedomani oleh umat Hindu sebagai satu-satunya sumber bimbingan dan informasi yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari ataupun untuk waktu-waktu tertentu. Sebagai kitab suci, Weda adalah sumber ajaran agama Hindu sebab dari Wedalah mengalir ajaran yang merupakan kebenaran agama Hindu. Ajaran weda dikutip kembali dan memberikan vitalitas terhadap kitab-kitab susastra Hindu pada masa berikutnya. Segala tuntunan hidup ditunjukan kepada kita oleh ajaran Weda yang terhimpun dalam kitab-kitab Samhita, Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, maupun yang dijelaskan kembali dalam kitab-kitab susastra Weda atau susastra lainnya. Seperti yang telah di jelaskan sloka berikut :

Weda castrartha tatwajno
Yatra taracrame was am,
Ihaiwa loke tisthansa
Brahma bhuyaya kalpate
Artinya :                                                         Manawa Dharmasastra (XII,103)

Dalam tingkat apapun manusia mengetahui arti yang benar tentang ilmu Weda boleh tetap bahkan ia walaupun semasih terikat dalam dunia ini,layak bersatu dengan Brahman.
                                                           
b.      Weda, wahyu Tuhan Yang Maha Esa
Umat Hindu yakin bahwa kitab suci Weda merupakan wahyu atau sabda Tuhan Yang Maha Esa yang disebut Sruti yang artinya yang didengar (revealed teachings). Weda sebagai himpunan sabda atau wahyu berasal dari: Apauruseya (yang artinya bukan dari purusa atau manusia), sebab para Rsi penerima wahyu berfungsi hanya sebagai instrument (sarana) dari Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan ajaran suci-Nya. Terhadap pernyataan ini Svami Dayanada Sarasvati menyatakan: “Weda adalah sabda-Nya dan segala kuasa-Nya bersifat abadi. Para rsi     adalah mereka yang menerima wahyu Tuhan Yang Maha Esa, karena kesucian pribadinya.

c.       Weda, sumber hukum Hindu
            Maharsi Manu peletak dasar hukum Hindu menjelaskan bahwa Weda adalah sumber dari segala Dharma atau hukum Hindu
Vedo khilo dharma mulam
Smrti sile ca tad vidam,
Acrasca iva sadhunam
Atmanas tustir eva ca
(Manawa Dharmasastra II.6)

Artinya :
                                                                                               
Weda adalah sumber dari segala Dharma,
kemudian barulah smrti, di samping sila, acara dan atmanastuti

Banyak sloka-sloka yang menekankan pentingnya Weda sebagai sumber ajaran Hindu maupun sebagai sumber hukum Hindu dalam meningkatkan kualitas pribadi maupun masyarakat.
d.      Nama-nama lain kitab suci Weda
            Dalam ajaran Weda terdapat juga kitab suci weda yang dikenal dalam berbagai nama diantaranya yaitu :
1.      Kitab Sruti, artinya bahwa kitab weda adalah Wahyu yang diterima melalui kemekaran intuisi para Maha Rsi.
2.      Kitab Catur Weda, nama Catur Weda dimaksudkan untuk menunjukan bahwa Weda itu merupakan himpunan (Samhita) dari Rgweda, Yajurweda, Samaweda dan Atharwaweda.
3.      Kitab Rahasya, karena inti ajarannya adalah usaha mencapai hidup yang tertinggi yaitu Moksa.
4.      Kitab Agama. Kitab Agama menunjukan bahwa kebenaran Weda adalah mutlak dan harus diyakini kebenarannya.
5.      Kitab Mantra, karena kitab weda memuat nyanyian-nyanyian pujian.

e.       Umur Kitab Suci Weda
Weda sebagai kitab suci Agama Hindu diyakini oleh umat Hindu sebagai Anadi Ananta, yakni tidak berawal dan tidak berakhir. Weda diturunkan sejak umat manusia diciptakan. Para sarjana yang melakukan pemikiran tersebut, antara lain sebagai berikut :
1.      Lokamanya Tilak Shastri memperkirakan bahwa wahyu telah diturunkan sekitar tahun 6.000 SM.
2.      Bal Ganggadhar Tilak memperkirakan bahwa wahyu Weda diturunkan sekitar tahun 4.000 SM.
3.      Dr. Haug memperkirakan bahwa Weda telah diturunkan sekitar tahun 2400 SM.
4.      Dr. Max Muller memperkirakan bahwa Weda diturunkan sekitar tahun 1200-800 SM.
5.      Heine Gelderen memperkirakan bahwa Weda diturunkan sekitar tahun 1500-100 SM.
6.      Sylvain Levy memperkirakan bahwa Weda diturunkan sekitar tahun 1000 SM.
7.      W. Stutterheim memperkirakan bahwa Weda diturunkan sekitar tahun 1000-1500 SM.
           
            Berdasarkan perkiraan di atas jelaslah bahwa wahyu Weda telah turun ke dunia berabad-abad sebelum tahun masehi, dan karenanya kitab suci Weda amat tua usianya. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar